Nikmatnya Dientot Dari Belakang Sampai Klimaks

1338 views

Nikmatnya Dientot Dari Belakang Sampai Klimaks. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

Nikmatnya Dientot Dari Belakang Sampai Klimaks

Nikmatnya Dientot Dari Belakang Sampai Klimaks

Meli adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Meli berumur 28 tahun, dia adalah seorang wanita Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Meli telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Meli dapat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.

Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Ronal dan Anita melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Meli pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

Menjelang tengah malam, Meli tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Meli membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Ronal dan Anita sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Ronal seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

“Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Meli.

Kedua tangan Ronal sedang meremas-remas kedua buah dada Anita yang kecil tetapi padat berisi itu. Meli sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Meli mengharapkan mereka cepat selesai dan Ronal segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Anita agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Ronal sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Meli berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.

Pada saat Meli mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Meli sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Ronal sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Meli berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Ronal dan Anita sudah selesai dan Anita dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

Ronal yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Meli, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Meli. Meli menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Ronal untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Ronal malu, karena dipikirnya Ronal melakukan hal itu lebih disebabkan karena Ronal masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Meli memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Ronal akan menghentikan kegiatannya itu.

Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Ronal bangkit dan duduk di samping Meli. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Meli dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

“sssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Meli bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Meli, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Meli.

Badan Meli menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Meli seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Ronal melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Meli. Jari-jari Ronal membuka satu persatu kancing daster Meli, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Meli, sehingga terlihatlah payudara Meli yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

Sekarang Meli tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Ronal. Ronal sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.

Sejak saat itu Ronal bertekad untuk tidak akan membebaskan Meli. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Ronal akan menikmati tubuh Meli berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Meli terlalu sayang untuk disimpan oleh Meli sendiri pikir Ronal. Ronal mendorong tubuh Meli dan mulai meremas-remas payudara Meli yang telah terbuka itu,

“Dengerin sayang, you akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal you baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

Kesadaran Meli mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Meli perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Ronal yang sedang merangkak di atasnya. Meli mencoba mendorong badan Ronal sambil berkata,

“Ronal, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Ronal, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Ronal berada dalam keadaan mabuk, Meli mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Ronal.

Akan tetapi Ronal yang telah sangat terangsang melihat tubuh Meli yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

“Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! You emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Ronal sambil menekan tubuhnya ke tubuh Meli.

Meli berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Ronal akan membalas berlaku kasar padanya.

Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.

Sambil menjilat bibirnya Ronal berbaring di sisi Meli.

“Lin, lebih baik you mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa you dan saya perkosa you habis-habisan. Kalau you nurutin, you akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Meli, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Meli. “Bodi you oke banget!”, kata Ronal. “Coba you berputar Meli!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Meli berputar membelakangi Ronal. Dan dirasakanya tangan Ronal sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

Kemudian Ronal menyibakkan rambut Meli, dan dihirupnya leher Meli dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Meli. Sambil melakukan hal itu tangan Ronal berpindah menuju kemaluan Meli. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

“Kasihan you, Meli, pasti suami you tidak tahu cara membahagiakan you?”,
“Tapi tenang aja sayang, dengan saya, you nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, you bakalan merasakan bagaimana menjadi wanita sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Meli.

Setelah itu Ronal mengambil tangan Meli dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Meli tersentak, belum sempat Meli dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Ronal dan dengan cepat Ronal telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Ronal. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Ronal lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Meli,

“Apa you mau saya masukin itu?”,
“Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Toomm…”, Meli dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Ronal.

Meli mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Ronal agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.

Sambil tersenyum Ronal berkata lagi,

“You tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik you diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Ronal lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Meli dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Meli dengan tanpa dapat dihalangi lagi.

Testis Ronal mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Meli, sementara Meli megap-megap karena dorongan keras Ronal.

Meli belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Ronal. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Ronal yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Meli mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Ronal, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Meli hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan.

Meli hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Meli mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Ronal di atasnya. Ronal melihat Meli mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Meli sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Ronal merasakan tangan Meli merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Meli. Ronal terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Meli.

Ronal sekarang ingin membuat Meli orgasme terlebih dahulu. Meli semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Ronal, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Ronal, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Ronal. Sekarang Meli secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Ronal, sehingga badan Ronal mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Ronal terasa semakin keras, sehingga Ronal semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Meli dalam-dalam. Meli merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Meli tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,

“Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

Kedua pahanya mMeligkari pantat Ronal dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Meli. Ronal merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Meli yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Meli dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelus kepala penisnya.

Setelah beristirahat sejenak dan melihat Meli sudah agak tenang, Ronal mulai memompa lagi. Pompaan Ronal kali ini segera dibalas oleh Meli, pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penis Ronal serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Meli berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Ronal merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Meli berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi.

Wah, suatu sensasi melanda perasaan Ronal, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wanita manapun juga selama ini. Menyesal Ronal karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Meli makin bervariasi. Terkadang Ronal malah meminta Meli berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Meli pada penis Ronal membuatnya geli-geli dan serasa akan ‘meledak’.

Ronal tidak ingin cepat-cepat sampai, karena masih ingin menikmati

“elusan” vagina Meli. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewanitaan Meli semakin menggila dan semakin liar.

Hingga akhirnya Ronal harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Ronal bergerak mengimbangi goyangan pinggul Meli, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Ronal menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewanitaan Meli, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Ronal melayang tadi, tiba-tiba kaki Meli yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Ronal kuat-kuat. Amat sangat kuat.

Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi…, Meli pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Meli.

“Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Toomm….!”.

Ronal tersenyum puas melihat tubuh Meli terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Meli dengan eratnya menekan pantat Ronal ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Ronal pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Meli. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Meli langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Meli merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.

Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Meli kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Meli mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Meli, Ronal mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.

Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Meli dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Elis ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewanitaan Meli. Pada saat merasakan penis Ronal mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Meli bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaannya.

Dengan perlahan-lahan Ronal menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Meli mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.

Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Anita telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Meli merasa sangat malu terhadap Anita, tapi melihat reaksi Anita yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Meli menjadi terbiasa.